Jepang
selama ini identik dengan negara maju tapi masih memegang kuat budaya
mereka. Namun di balik budaya dan tradisi yang kuat itu, industri
pornografi (AV) ternyata juga tumbuh dengan subur pula. Tentunya sebutan
AV idol sudah bukan sesuatu yg asing lagi buat kita semua.
AV
Idol (Adult Video Idol) adalah sebutan buat para aktris atau model yang
bekerja di bidang pornografi di Jepang. Sebutan ini mulai muncul di
awal tahun 80-an dan kian hari kian berkembang dengan pesat. Bahkan saat
ini ada lebih dari 25 studio yang bergerak dalam produksi film AV. Itu
belum termasuk industri media cetak yg juga bergerak dalam industri ini
yang juga tak kalah pesatnya. Ini menunjukkan bahwa industri ini
bukanlah industri main-main atau industri underground. Mereka punya
bisnis yang dikelola dengan sangat baik secara profesional, terorganisir
layaknya industri lain dan hebatnya semuanya LEGAL.
Industri
AV Jepang juga punya karakteristik unik bila dibandingkan dengan
industri AV barat (WAV) pada umumnya. Salah satunya, di Jepang, topik
yang sering kali menjadi ide pokok adalah hubungan seks dengan gadis2
yang masih menggunakan seragam sekolah.Nah paradigma yg beredar di
Western AV : menganggap AV Jepang berpusat pada kekerasan dan hubungan
seksual dengan anak di bawah umur, sesuatu yang di barat dianggap
‘asing’.
AV
Jepang juga punya banyak wujud selain dalam bentuk video dan gambar.
Industri komik dan manga ber-genre Harem / Ecchi / Hentay atau computer
games yang sarat dengan muatan pornografi juga cukup laris di negeri
matahari terbit ini namun tentu saja industri ini tak sebesar industri
AV yang telah melahirkan banyak Rising Star, seperti Maria Ozawa
misalnya. Wanita yg sudah menjadi MILF / ibu2 ini sudah menekuni bisnis
ini selama lebih dari 5 tahun.
Ratusan
AV Idol yang pernah ada hingga saat ini rata-rata memiliki masa aktif
sekitar 1-2 tahun saja.(Kecuali untuk idol2 yg bernaung dibawah bendera
PH mayor yg memiliki kontrak eksklusif, mereka bisa bertahun2 berkarir
disitu.) Selama satu tahun itu rata-rata mereka menghasilkan sekitar
lima sampai sepuluh video. Beberapa Idol memang sempat melegenda dan
memiliki karir lebih dari satu tahun.
Sebut saja Kaoru Kuroki, yg memulai AV debutnya pada Oktober 1986
dibawah bendera Studio Mayor “Crystal-Eizou”, berdasarkan statement dari
Rosemary Iwamura : “Kaoru mengubah image / paradigma yg beredar tentang
aktris AV, dia tidak terlihat menekuni dunia AV ini karena tidak adanya
pilihan dalam hidupnya, melainkan ini adalah sebuah pilihan. Karena
telah berhasil membawa industri AV kehadapan media mainstream jepang,
dia dikenal dengan “High Profile AV Actress”, dia telah mengubah cara
pandang masyarakat umum di jepang terhadap industri AV.
Bahkan
dia sempat dianggap sebagai aktris AV yang berhasil mengangkat status
AV Idol menjadi orang yang terhormat juga di mata masyarakat. Ia memilih
menjadi AV Idol meski sebenarnya ia juga punya karir yang bagus di
dunia per-televisian. Yang jelas, bisnis ini adalah bisnis yang
ber-prospek dan sangat menguntungkan. Konon, bisnis ini bernilai sekitar
Rp 46 triliun per tahunnya. Tahun 1992 saja bisnis ini bisa
menghasilkan 11 film dalam satu harinya (untuk 1 Studio / PH) dan
menguasai sekitar 30% rental video di sana. Dua tahun berikutnya, data
mencatat bahwa dalam satu tahun Jepang bisa memproduksi 14 ribu film
AV!, sementara di Amerika Serikat dalam waktu yang sama hanya mampu
memproduksi sekitar 2.500 video saja.
Nah
the biggest question mark bagi semua orang tentunya hampir sama
semuanya, : “Kenapa sih mereka (wanita2 muda) yg notabene memiliki paras
cantik2 itu mau terjun ke dunia AV ini...???” Mengapa para wanita-wanita cantik itu mau menjadi JAV star? Sangat
disayangkan memang. Padahal mereka punya potensi ya setidaknya untuk
menjadi artis mainstream. Lantas knapa mereka memilih jalur AV?
Sebenarnya tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini, tapi kita bisa
membuat sebuah kesimpulan dari banyaknya statement2 orang2 yg pernah tinggal disana atau sedang stay disana dan cukup
paham dengan kehidupan masyarakat disana..
Kehidupan
kota yang keras mengharuskan para warganya untuk berusaha lebih untuk
bisa bertahan hidup. Segala macam cara ditempuh agar dapur tetap
mengepul. Dari cara yang terhormat sampai yang underground. Lho kok
Terhormat Vs Underground ? Kenapa tidak Terhormat Vs Tak Terhormat ?
kembali lagi seperti di trit sebelumnya, terhormat atau tidak, kita
berada diluar lingkaran untuk sebuah judgement. Selain itu pula tidak
sedikit AV idol di Jepang yang mempunyai posisi di mata masyarakat.
Seiring dengan perkembangan jaman, dunia kerja di jepang semakin “gila”.
Keadaan ini menuntut mereka untuk berpikir kreatif. Muncul
salary-salary man yang bergaji rendah namun mati-matian bekerja.
Pernah
ane tanya ke temen ane yg stay disana : untuk sekali makan disana habis
berapa ? dia menjawab sekitar 1000 yen untuk sekali makan, sehingga
dalam sehari untuk makan saja menghabiskan 3000 yen! yah kalau mau
berhemat mungkin 2000 yen. 1 yen kalau dirupiahkan kira2 sama dengan Rp.
102, kalau habis 3000 yen bearti kena sekitar Rp.306.000, itu hanya
untuk makan saja . Wow nominal yg bikin mules deh . Nah kalo hanya untuk makan saja begitu mahal trus gimana kebutuhan yang lain?
Oke
kembali lagi ke tanda tanya besarnya. Kalau kita melihat paras cantik
para AV idol itu mengapa mereka tidak menjadi artis film (mainstream
actress), model atau bintang iklan saja? untuk pertanyaan yg ini,
menurut ane Alasan yang masuk akal mungkin adalah karena mereka kalah
bersaing dengan yang lain. Pada awalnya berharap menjadi artis namun
kalah bersaing sehingga terjun di Cabaret klub, Gravure idol, AV idol,
sampai buka layanan Pink salon dan soapland. Apaan itu pink salon dan
soap land ? ya ini semacam tempat “goyang-goyang” dengan tarif relatif
“murah” untuk short time services saja. Nah,dari short time saja para
wanita2 itu bisa mengantongi antara 4000 yen – 6000 yen kalau sehari ada
10 pelanggan ya tinggal kalikan aja deh.. Hmmm instant skali ya..
Faktor
lainnya adalah hukum ekonomi, ada demand maka supply akan terus ada.
Kalau yg satu ini terkait dengan kehidupan bebas disana lumayan tinggi.
Tapi jangan berpkir bahwa mereka murahan gampang “dieksekusi” /
“dipakai”. Bukan begitu maksudnya gan, disana berhubungan seks pra nikah
bukan sesuatu yang mengganggu. Sedikit banyak hal ini juga mendorong
pertumbuhan AV idol. Apa lagi pria jepang terkenal dengan syahwat yang
tinggi.
Faktor
yang terkahir adalah hubungan seks pasca nikah yang minim. Lhah kok
begitu? kenapa setelah nikah justru malah jarang? sebelum nikah malah
“keranjingan” .
Tidak heran kalo mendengar statemen seperti itu. Bagi kita Indonesia,
seks pra nikah merupakan hal yang tabu sehingga banyak yang mengartikan /
menyalahartikan nikah adalah legalitas berhubangan badan semata.Padahal
nikah itu mencari “Partner” ya, partner kita dalam mengarungi lautan
kehidupan yg penuh gejolak ini. Coba lihat ke sekililing kita ketika
sedang bercanda kita mungkin pernah mendengar celetukan ”udah merid aja
sana, udah gak tahan tuh kayaknya”. Pernyataan yang demikian menunjukkan
orientasi bahwa nikah merupakan legalitas sex, inilah yg salah kaprah.
Berbeda
dengan di negeri sakura, karena mereka menganggap seks pra nikah bukan
hal yang tabu jadi merid bukan legalitas seksual saja. Lantas apa yang
menyebabkan minimnya berhubungan badan? Hal ini disebabkan pekerjaan
yang sangat menumpuk di kantor, pulang larut malam ketika sudah sampai
dirumah kecapekan dan tidak mood lagi untuk melakukan apapun termasuk
hubungan suami istri. Bahkan Seorang pasutri hanya sempat sekali dalam
sebulan berhubungan badan? Lah..kalo lagi ngebet gimana? Ya swalayan
atau manual bagi suami yang baik dan setia, tapi tidak setia ya
jajan..ujung-ujungnya... AV idol lagi.
Sebenernya
keadaanya tidak jauh berbeda dengan kota2 besar tanah air. Tidak usah
jauh2 ke jepang untuk memahami hal ini. Bedanya kita tidak ada legalitas
hukum dan regulasi yg mengatur / untuk membuka industri AV seperti di
jepang. Meskipun masih aja ada video AV sembunyi2 dengan kualitas 3gp.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
















0 komentar:
Posting Komentar